4 Kegembiraan Orang yang Berpuasa

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

4 Kegembiraan Orang yang Berpuasa

Dari Abu Huroiroh Rodiallohu ‘anhu, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Alloh daripada bau minyak kasturi.” (HR. Muslim)

Sabda Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam,   لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

:: untuk orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya. Keduanya adalah pahala yang diberikan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla yang disegerakan di dunia dan ditunda di akhirat.

  • Kegembiraan pertama:

Kegembiraannya ketika berbuka, yaitu kegembiraan dengan nikmat yang telah Alloh ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya dengan menyempurnakan puasanya. Ibadah ini termasuk amal shalih yang paling utama, karena betapa banyak orang yang terhalang dari puasa / tidak melaksanakan puasa. Selain itu, ia juga bergembira dengan apa yang kembali dihalalkan Alloh untuknya berupa makanan dan minuman mengingat hal-hal tersebut sebelumnya diharamkan baginya pada saat sedang berpuasa.

  • Kegembiraan kedua:

Kegembiraannya ketika berjumpa dengan Rabb-nya dengan keridhoan dan kemurahanNya. Ia bergembira dengan membawa pahala puasanya. Ketika dia mendapatkan pahala di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah disediakan untuknya, ketika dikatakan kepadanya, “Mana orang-orang yang berpuasa, hendaklah dia masuk surga dari pintu Ar-Royyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.”

Dalam sebuah hadits:  “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka: “Di mana orang-orang yang berpuasa?”  Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.”  (HR. Bukhori dan Muslim)

  • Kegembiraan ketiga:

Puasa mampu memberikan syafa’at kepada pelakunya pada hari kiamat. Diriwayatkan dari  Abdullah bin ‘Amr rodhiallohu ‘anhuma, bahwasanya Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: ‘Wahai Robbku, aku telah menghalanginya dari makan, minum dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.  Al-Qur`an berkata:  ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari,  maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya”.  (HR. Ahmad dari Ibnu Umar.  Al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa`id, 3/181 berkata: rawi-rawinya adalah rawi hadits shahih)

  • Kegembiraan keempat:

Puasa sebagai kaffarat (pelebur) dosa-dosa. Dosa akan menyebabkan kecemasan dan ketakutan, manakala disediakan peleburnya, berarti kecemasan tersebut akan teratasi, pelakunya pun akan tenang dan berbahagia. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ    ::  “Fitnah (kelalaian) seseorang pada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dilebur dengan shalat, puasa dan sedekah.”   (HR. Al Bukhari dari Hudzaifah ibnul Yaman, dalam mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 310)

Religious Myspace Comments

Iklan

Sabar : Keajaiban Seorang Mukmin

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sabar : Keajaiban Seorang Mukmin

 

Dari Shuhaib radhiallohu ‘anhu, bahwa Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusannya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan ada kecuali hanya pada orang yang beriman; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia akan bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia akan  bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal yang terbaik juga bagi dirinya.” (HR. Muslim)

 Makna Hadits Secara Umum

 Setiap mukmin digambarkan oleh Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam  sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Alloh subhanahu wa ta’ala. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah dari Alloh. Dan tidaklah Alloh memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan kehendak dari Alloh subhanahu wa ta’ala  yang berupa cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya hanya kepada Alloh subhanahu wa ta’ala  saja.

Urgensi Kesabaran

 Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan, seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasululloh sholallohu ‘alaihi wassalam  menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.

 Makna Sabar

 Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Alloh dalam Al-Qur’an:  “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabbnya serta selalu mengharap keridhoan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Alloh subhanahu wa ta’ala. Sedangkan dari segi istilah, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.

Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an

 Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Alloh subhanahu wa ta’ala.

  • Sabar merupakan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Alloh dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)
  • Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rosul-rosul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqof: 35)
  • Pujian Alloh bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqoroh: 177)
  • Alloh akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Alloh mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
  • Kebersamaan Alloh dengan orang-orang yang sabar. Artinya Alloh subhanahu wa ta’ala akan senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Alloh itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
  • Mendapatkan pahala surga dari Alloh subhanahu wa ta’ala. (Ar-Ra’d: 23 – 24)

Keutamaan Mengucapkan Salam

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Keutamaan Mengucapkan Salam

Dari Abu Huroiroh radhiallohu ‘anhu, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai?  Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Dari Abdulloh bin Salam radhiallohu ‘anhu, Rasululloh bersabda, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (Shohih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Etika Salam

Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, “Dia mendapat sepuluh pahala.” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “Dua puluh pahala baginya.” Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barakatuh. Nabi pun menjawabnya dan berkata, “Dia mendapat tiga puluh pahala.” (Shohih. Riwayat Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Dari hadits tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Memulai salam hukumnya sunnah bagi setiap individu, berdasar pendapat terkuat.
  2. Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama.
  3. Salam yang paling utama yaitu dengan mengucapkan Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barakatuh, kemudian Assalamu’alaikum warohmatulloh dan yang terakhir Assalamu’alaikum.
  4. Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan yang mengucapkan. Alloh berfirman “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Alloh memperhitungankan segala sesuatu.” (Qs. An Nisa’ : 86)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, “Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang duduk yang sedikit kepada yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam lafazh Bukhari, “Hendaklah yang muda kepada yag lebih tua.”  Demikianlah pengajaran Rosul tentang salam. Namun orang yang meninggalkan tatacara salam seperti pada hadits ini tidaklah mendapat dosa,  hanya saja dia telah meninggalkan sesuatu yang utama.

Salam Kepada Orang yang Dikenal dan Tidak Dikenal

Termasuk mulianya syariat ini ialah diperintahkannya kaum muslimin untuk memberi salam baik pada orang yang dikenal maupun orang yang belum dikenal. Rasululloh bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari kiamat apabila salam hanya ditujukan kepada orang yang telah dikenal.” (Shohih. Riwayat Ahmad dan Thobroni)

* tadzkiroh *

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

  • Barangsiapa yang dikehendaki Alloh dengan kebaikan, maka akan dipahamkan dalam masalah agama (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, Al-Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi. (Al Hadits)
  • Ya ALLOH, bantulah aku untuk mengingat Engkau & banyak bersyukur kepadaMu & beribadah kepadaMu dengan baik.
  • Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”. (HR.Muslim)
  • Allah berfirman dalam hadits Qudsi, yang artinya : “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku. Kalau ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Bila ia berprasangka buruk, maka keburukanlah yang akan menimpanya”.